Mencintai dan Meneladani Rasulullah
“Dan kami bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusan (rasul) Allah.” Itulah arti dari kalimat syahadat yang kedua. Salah satu bentuk implementasi persaksian atas Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas pengetahuan mengenai Rasulullah. Semakin kita mengenal Rasulullah, keimanan kita juga akan bertambah. Keimanan dan kecintaan para sahabat juga bertambah karena mengetahui secara langsung Rasulullah. Sehingga keimanan dan kecintaan sahabat Rasulullah sangat besar.
Seperti yang kita tahu, Rasulullah memiliki akhlak yang terpuji. Al-Qur’an sendiri mendeskripsikan akhlak Rasulullah tak hanya akhlak mulia, tetapi juga akhlak yang agung. Bahkan ketika beliau belum diangkat sebagai nabi, beliau sudah mendapat gelar dari masyarakatnya sebagai Al-Amiin yang artinya “orang yang dapat dipercaya” dan As-Saadiq yang artinya “yang benar”. Ketika Rasulullah menjalankan misi dakwahnya, beliau menunjukkan kesabaran yang luar biasa. Meski mendapat cacian dan hinaan, Rasulullah tidak putus asa dan tetap teguh dalam menegakkan ajaran-ajaran Islam. Justru terkadang perbuatan buruk yang dialamatkan ke Rasulullah malah dibalas dengan kebaikan. Rasulullah hanya memerintahkan berperang apabila hal itu diperlukan.
Kita, sebagai umat Islam, wajib mencintai dan meneladani Rasulullah. Untuk itu, kita harus belajar mengenal Rasulullah . Dan Sirah Nabawiyah merupakan sarana untuk lebih mengenal beliau. Semua aspek kehidupan Rasulullah ada dalam Sirah Nabawiyah. Sirah Nabawiyah juga dapat menjadi motivasi bagi kita agar senantiasa meningkatkan amal ibadah.
Sirah Nabawiyah menjadi acuan dalam implementasi ibadah dan dakwah. Kita bisa meneladani bagaimana Rasulullah beribadah dan berdakwah. Dalam Sirah Nabawiyah, Rasulullah memberikan contoh bagaimana melaksanakan amal ibadah yang baik dan benar. Sirah Nabawiyah juga mencontohkan strategi Rasulullah dalam berdakwah sesuai kondisi yang dihadapinya. Sirah Nabawiyah mengandung sejarah dan peristiwa penting yang terjadi sepanjang kehidupan Rasulullah. Dari peristiwa yang dialami beliau, kita bisa mengambil ibrah atau pelajarannya.
-Kharisma Agung

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda